Posisi Perempuan dalam Tempurung dan Ayu Manda: Dua Novel Karya Perempuan dan Laki­Laki Pengarang Bali

Anang Santosa(1*),

(1) Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo
(*) Corresponding Author

Abstract


Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan posisi tokoh­tokoh perempuan dalam dua novel karya pengarang Bali-Tempurung dan Ayu Manda dengan pendekatan feminis. Tempurung karya perempuan pengarang, Oka Rusmini, dan Ayu Manda garapan I Made Iwan Darmawan. Kedua novel tersebut sama­sama diterbitkan pada tahun 2010. Kedua novel tersebut dipilih karena sangat kental menyajikan beragam persoalan perempuan. Eksploitasi gender sebagai sebuah konstruk sosial budaya, mengakibatkan timbulnya ketidakadilan­ketidakadilan. Ironisnya, ketidakadilan tersebut mengalami pembiaran akibat ketatnya hegemoni adat dan tatanan dalam masyarakat. Masalah tersebut dimunculkan secara padat dan cepat dalam novel Tempurung dan Ayu Manda. Novel Tempurung menampilkan gambaran perempuan­perempuan yang dihegemoni oleh budaya dan masyarakatnya. Pada novel Ayu Manda yang mengambil latar waktu 1960­an, geliat penolakan terhadap ketidakadilan mulai ditampilkan. Akan tetapi, ketika perempuan mulai berbicara tentang dan terlibat cinta, perempuan akan berhadapan dengan kuasa adat istiadat dan tradisi yang siap memarginalkan tubuhnya jika tidak bersepaham dengannya. Temuan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah perempuan­perempuan dalam kedua novel tersebut diposisikan sebagai manusia yang berjenis kelamin berbeda sehingga harus diperlakukan berbeda pula.

Abstract:
This article aims to describe the position of female characters in two novels written by Balinese writers, Tempurung and Ayu Manda, using feminist approach. Tempurung was written by a female writer, Oka Rusmini, whereas Ayu Manda is a work of I Made Iwan Darmawan. Both novels were published in 2010. The two novels were chosen for strongly presenting various woman issues. Gender exploitation as a sociocultural construction brings about discriminations. Ironically, ironically, those discriminations have been allowed because of a firm hegemony of tradition and social order of society. The issue is solidly and fast presented in the two novels. Tempurung depicts the women who are hegemonized by their culture and society. In Ayu Manda, which takes the setting of the 1960s, refusals toward discrimination have started to emerge. However, when a woman starts to talk about and be involved in love, she will face the power of custom and tradition ready to marginalize her body if they disagree with them. The result of the study shows that the women in the two novels are positioned as being of different sex so they have to be treated differently from man.

Key Words: woman; gender; feminism

Keywords


perempuan; gender; feminisme

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.24257/atavisme.v16i2.96.229-245

Article metrics

Abstract views : 244 | views : 227

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

   

ATAVISME is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Visit Number:

View My Stats