Sketsa Karya Ari Nur Utami: Arsitektur Urban dalam Perspektif Ekokritisisme

Usma Nur Dian Rosyidah(1*),

(1) Departemen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya, Jawa Timur
(*) Corresponding Author

Abstract


Kota adalah ruang kompleks bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Saat ini, penghuni ruang kota terancam oleh menurunnya kualitas ekologis kota akibat pembangunan gedung, berbagai fasilitas. dan infrastruktur kota yang masif. Salah satu novel yang memotret eksploitasi ekologi kota tersebut adalah Sketsa karya Ari Nur Utami. Sebagai novel berlatar belakang arsitektur, Sketsa menceritakan pembangunan gedung di Jakarta oleh pengembang bernama PT Semesta Sentosa. Menggunakan teori ekokritisisme, fokus diskusi dalam artikel ini adalah cara penulis memasukkan nilai dan asumsi ekokritik dalam arsitektur urban di novel Sketsa. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan dominasi pandangan antroposentris individu terhadap alam. Melalui metode kualitatif­deskriptif dengan melakukan close­reading, hasil pembahasan menunjukkan bahwa pembangunan di Jakarta dengan berbagai proyek arsitektur urbannya masih mengabaikan kelestarian lingkungan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan ini dapat dilihat dari orientasi etis dan linguistik antroposentris yang dipilih demi mendapatkan keuntungan besar dalam bisnis properti di Jakarta.

Abstract:
City is a space that contains complexities for anyone being part of it. Nowadays, people are threatened by the ecologically degrading city as the result of the massive development of buildings and other city’s facilities and infrastructures. A novel portraying the issues of ecological exploitation is Ari Nur Utami’s Sketsa. Being claimed as an architectural background novel, Sketsa portrays the development of buildings in Jakarta by a property developer named PT Semesta Sentosa. By applying ecocriticism theory, one point discussed in this article is how the author imputes certain ecocritical values and assumptions in presenting the urban architecture in Sketsa. The objective of this research is to elaborate the domination of anthropocentric perspective over nature. Through the qualitative­descriptive method, it is found that the development of Jakarta as an urban space is still far from ecocritical considerations. This can be seen from ethical orientation and anthropocentric linguistic chosen for the benefits of property business in Jakarta.

Key Words: urban; architecture; ecocriticism

Keywords


urban; arsitektu; ekokritisisme

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.24257/atavisme.v16i2.94.205-213

Article metrics

Abstract views : 465 | views : 632

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

   

ATAVISME is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Visit Number:

View My Stats