Kontestasi Politik Identitas dalam Cerita Asal-Usul Raja Ampat

Dina Amalia Susamto

Abstract


Penelitian ini bertujuan mengungkap  cara dua narasi tentang cerita asal-usul Raja Ampat dari suku Biak dan Ma’ya di Raja Ampat merepresentasikan politik identitas.  Permasalahannya adalah bagaimanakah politik identitas dikontestasikan oleh kelompok-kelompok masyarakat di Raja Ampat. Penelitian kualitatif secara etnografi ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kontestasi masing-masing akan terus mereposisi subjek  dalam politik identitas Ma’ya dan Biak. Keduanya berada pada proses menjadi subjek baru, identitas yang berbeda di antara masyarakat lain di Raja Ampat dalam kebutuhan komodifikasi pariwisata. Sebagai akibatnya, Ma’ya dan Biak yang sekarang berbeda dengan leluhur mereka di masa lalu. Versi-versi cerita menjadi bagian dari kekayaan ekspresi budaya dan tidak dijadikan sebagai alat politik untuk mengklaim siapa yang lebih tua atau lebih unggul di dalam suatu wilayah. Dalam penelitian ini, disimpulkan  bahwa cerita asal-usul Raja Ampat dari suku Ma’ya adalah versi yang lain sebagai bentuk resistensi Ma’ya terhadap versi Biak. Kontestasi tersebut membuat subjek Ma’ya dan Biak ambivalen.

 

[Title: Study on Ecoculture in the Novel Tirai Menurun by Nh. Dini]. This research aims to unveil how two narratives about the origin of Raja Ampat from Biak and Ma’ya people in Raja Ampat represent their identity politics.  The problem is how  politics of identity is contested by Ma’ya and Biak  people in Raja Ampat. This is a kind of ethnographic qualitative research. The result of research shows that in the contestation each of them will endlessly reposition the subject in Ma’ya and Biak’s identity politics. As a result, Ma’ya and Biak always become new subjects, different identity among other people in Raja Ampat in the necessities of tourism commodification. In present days, the identities of Ma’ya and Biak are different from their ancestors in the past. The various versions of the story  are the richness of the cultural expression, and are not used as political devices to make a claim about which is the older and superior one. The research concludes that the story of origin of Raja Ampat from Ma’yas is another version that shows a resistance to Biak’s version.


Keywords


politik identitas; narasi; kontestasi; komodifikasi;contestation; narration; politic of identity; commodification

Full Text:

Fulltext PDF

References


Allen, G. (2009). Ichthyology. In The Raja Ampat Through the Lens of, (25–26). Singapura: Tien Wah Press Pte Ltd.

Ammer, M. (2009). The Raja Ampat Archipelago. In The Raja Ampat Through the Lens of, (6–23). Singapura: Tien Wah Press Pte Ltd.

Anoegrajekti, N. (2005). Gandrung Ba-nyuwangi: Pertarungan Pasar, Tradisi, dan Agama Memperebutkan Representasi Identitas Using. Universitas Indonesia. Retrieved from http://lib.ui.ac.id/abstrak-pdfdetail.jsp?id=87023&lokasi=lokal%0A

Anoegrajekti, N. (2010). Etnografi Sastra Using : Ruang Negosiasi dan Perta-rungan Identitas. Atavisme, 13 (2), 137–148. https://doi.org/http://-dx.doi.org/10.24257/atavisme.v13i2.125.137-148

Ardiwidjaja, R. (2008). Strategi Pengembangan Raja Ampat Warisan Di Ujung Timur Indonesia. Jurnal Kepa-riwisataan Indonesia, 3 (1).

Barker, C. (2000). Cultural Studies Theory and Practice (First Edition). London: Sage Publication Inc.

Erdman, M. V. (2009). Introduction. In The Raja Ampat Through the Lens of,   (25–26). Singapura: Tien Wah Press Pte Ltd.

Hall, S. (1990). Cultural Identity and Diaspora. In Rutherford, J., (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference (222–237). London: Lawrence and Wishart.

Leeden, A. C. Van Der. (1980a). Report on Anthropological Fied Research at The Northern Raja Ampat Isands, March-JUne 1979. Dalam Masinambow, E.K., (Ed.), Halmahera dan Raja Ampat Konsep Dan Strategi Pe-nelitian. (205–214). Jakarta: Leknas-LIPI.

Leeden, A. C. Van Der. (1980b). The Raja Ampat Islands, A Brief General Description. Dalam Masinambow, E.K., (Ed.), Halmahera dan Raja Ampat Konsep Dan Strategi Penelitian, 17–18, 21. Jakarta: Leknas-LIPI.

Maryone, R. (2010). Migrasi Orang Biak ke Pulau Batanta Kampung Arefi Kabupaten Raja Ampat, 2(2), 75–84.

Octavian, A., & Yulianto, B. A. (2014). Degradasi Kebudayaan Maritim: Sejarah, Identitas, dan Praktik Sosial Melaut di Banten. Masyarakat Indonesia, 40(1), 159–176. Retrieved from http://download.-portalgaruda.org/article.php?article=411100&val=8878&title=Degradasi Kebudayaan Maritim: Sejarah, Identitas, dan Praktik Sosial Melaut di Banten

Remisjen, A. C. . (2004). Word-prosodic Systems of Raja Ampat Languages (review). Oceanic Linguistics (Vol. 43). LOT. https://doi.org/ 10.1353/ol.2005.0014

Widjojo, M. (2013). Pemberontakan Nuku Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810. Depok: Komunitas Bambu.


 

 




DOI: http://dx.doi.org/10.24257/atavisme.v20i1.286.84-97

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

  

Visit Number:View My Stats

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License