Ambivalensi dan Kuasa Perempuan Terjajah dalam Karina Adinda: Lelakon Komedie Hindia Timoer dalem Tiga Bagian

Cahyaningrum Dewojati

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ambivalensi dan resistensi yang dipresentasikan tokoh perempuan terhadap kolonialisme Belanda dalam teks drama Karina Adinda. Adapun masalah yang dianalisis adalah ambivalensi, resistensi, dan kuasa perempuan terjajah yang terefleksi dalam teks drama Karina Adinda karya Liauw Giok Lan. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori feminisme pascakolonial yang berhubungan dengan budaya-budaya dari bangsa yang mengalami imperialisme Eropa dan cara elite pribumi dan peranakan melestarikan pola-pola kekuasaan atau dominasi kolonialisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis. Dari hasil analisis diketahui bahwa praktik penjajahan/kolonialisasi selalu menghasilkan kontak budaya dan interaksi antara kaum penjajah dan kaum terjajah. Dalam teks drama Karina Adinda, kontak bu-daya dan interaksi tersebut berupa hibriditas, mimikri, ambivalensi, dan resistensi yang diperlihat-kan oleh tokoh-tokoh perempuan, yakni Karina dan Raden Ajoe.

 

[Title: Ambivalence and Power of Colonized Woman in Karina Adinda: Lelakon Komedie HindiaTimoer dalem Tiga Bagian]. This research aims to reveal the ambivalence and resistance presented by female character against colonialism in the text of Karina Adinda drama. The issues analyzed in this research are ambivalence, resistance, and the power of colonized women reflected in Liauw Giok Lan’s drama, Karina Adinda. The theory used in this study is postcolonial feminism that is associated with the cultures of people who experienced European imperialism and t he way native elite and peranakan preserved patterns of power and colonial domination. The method used in this study is the qualitative method that produces descriptive data in the form of written words. The analysis results show that the practice of colonization always produces cultural contacts and interactions between the colonizers with the colonized. In the Karina Adinda text drama, those cultural contacts and interactions are in the forms of hybridity, mimicry, ambivalence and resistance which demonstrated by figures of women, namely Karina and Raden Ajoe.

 


Keywords


drama; feminisme pascakolonial; ambivalensi; resistensi; drama; feminism postcolonial studies; ambivalence; resistance

Full Text:

Fulltext PDF

References


Bhabha, H. K. (1984). “Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse.” October, 28, 126.

Bhabha, H. K. (1985). “Signs Taken for Wonders: Questions of Ambivalence and Authority Under a Tree Outside Delhi, May 1817.” Critical Inquiry, 12 (1).

Bhabha, H. K. (1994). The Location of Culture. New York and London: Routledge.

Day, T & Foulcher, K. (2008). “Bahasan Kolonial dalam Sastra Indonesia Modern Catatan Pendahuluan.” In Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial (Edisi revisi, h. 12). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Faruk, H.T. (2012). Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hermawan, S. (2005). Konstruksi Tionghoa dalam Novel Ca-bau-kan Karya Remy Sylado: Analisis Wacana Foucaultian. Tesis. Universitas Ga-djah Mada, Yogyakarta.

Heryanto, A. (2012). “Kewarganegaraan dan Etnis Cina dalam Dua Film Indonesia Pasca-1998.” Dalam Heryanto, A. (Ed.), Budaya Populer di Indonesia: Identitas Mencair di Masa Pasca-Orde Baru (hh. 105–138). Yogyakarta: Jalasutra.

Kwee, J. B. (1977). Chinese Malay Literature of the Peranakan Chinese in Indonesia 1880—1942. University Auckland, Selandia Baru.

Lan, L. G. (1913). Karina-Adinda. Batavia: Eleetrische Drukkerij Tjiong Koen Die.

Loomba, A. (2003). Colonialism Postcolonialism. New York: Routled-ge.

Mei, L. S. (2009). Ruang Sosial Baru Perempuan Tionghoa: Sebuah Kajian Pascakolonial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Moleong, L. J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif (5th ed.). Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Saputra, A. D. (2011). “Perempuan Subaltern dalam Karya Sastra Indonesia Poskolonial.” Literasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora, 1, 16—30.

Sumardjo, J. (1999). Konteks Sosial Novel Indonesia 1920—1977. Bandung: Alumni.

Suryadinata, L. (1988). Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Yasa, I.N. (2012). Teori Sastra dan Penerapannya. Bandung: Karya Putra Darwati.

Young, R. J. C. (1995). Colonial Desire: Hybridity in Theory, Culture and Race. London: Routledge.


 




DOI: http://dx.doi.org/10.24257/atavisme.v20i1.257.1-13

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

  

Visit Number:View My Stats

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License