Rara Mendut Dari Sastra Lisan Ke Sastra Tulis: Potret Perlawanan Terhadap Kekuasaan

Trisna Kumala Satya Dewi(1*),

(1) Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Jalan Dharmawangsa Dalam Surabaya
(*) Corresponding Author

Abstract


Rara Mendut, whose theme is about love, government, and power, results in a text enjoyed by the society. This matter is proved by the existence of the response in various shapes, such as literary works, wayang orang (Javanese dance drama), cinemas, and the others. The novels Rara Mendut, Genduk Duku, and Lusi Lindri written by Y.B. Mangunwijaya have gained inspirations, either from oral or written literature (Pranacitra-Rara Mendut tale). Based on the structure of its tale, it could be said that there is an intertextual relation between Pranacita Rara Mendut tale and the trilogy of Rara Mendut, Genduk Duku, and Lusi Lindri novels. The existence of Y.B Mangunwijaya’s novel trilogy has a position essential enough as the proof of cultural relation or continuation, namely between ancient culture (Pranacitra tale) and present culture (Rara Mendut, Genduk Duku, and Lusi Lindri trilogy), that can be enjoyed by present generations.

Key Words: Rara Mendut; resistance; power; oral literature; written literature

Abstrak:
Tulisan ini bertujuan membahas dan mendeskripsikan teks Rara Mendut dari sastra lisan ke sastra tulis dan Rara Mendut sebagai potret perlawanan terhadap kekuasaan dengan teori resepsi intertekstual dan teori kekuasaan. Sumber data tulisan ini adalah cerita lisan Rara Mendut; serat Pranacitra­‐Rara Mendut; dan novel trilogi Rara Mendut; Genduk Duku; dan Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Rara Mendut yang bertemakan percintaan; pemerintahan; dan kekuasaan merupakan teks yang digemari oleh masyarakat; temuan tersebut dibuktikan oleh adanya sambutan dalam berbagai bentuk. Penciptaan novel trilogi Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya diilhami oleh cerita Rara Mendut dalam sastra lisan dan sastra tulis. Berdasarkan struktur ceritanya; dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan intertekstualitas antara serat Pranacitra Rara Mendut dan trilogi novel Rara Mendut; Genduk Duku; dan Lusi Lindri. Baik dalam sastra lisan maupun sastra tulis; Rara mendut menggambarkan perlawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan.

Keywords


Rara Mendut; perlawanan; kekuasaan; sastra lisan; sastra tulis

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.24257/atavisme.v17i2.11.218-231

Article metrics

Abstract views : 472 | views : 1149

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

   

ATAVISME is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Visit Number:

View My Stats